Halo para sejawat, apa kabar? Semoga sehat selalu. Gimana libur Lebaran-nya, happy nggak? Pastinya dong. Kalau kamu nggak happy, berarti kamu sad. Gue mau sedikit berbagi cerita Lebaran gue, nih. Basi yaaa…. Nggak papa doong. Kan, dari kemarin libur, jadi gue baru update sekarang.

Kebetulan setiap Lebaran gue sekeluarga selalu mudik ke Purwokerto. Tahun ini untuk pertama kalinya gue mudik naik kereta—biasanya naik mobil. Keputusan ini kami ambil karena mempertimbangkan kemacetan dan umur yang tak lagi muda, hahaha. Semua sudah pada uzur, takut encok maaak…

Lagipula sejak beberapa tahun terakhir, jarak Jakarta-Purwokerto yang seharusnya bisa ditempuh selama 6-7 jam perjalanan darat, bisa ngaret jadi 24 jam gara-gara macet. Ini gue alami sendiri . Nah, apesnya keluarga gue selalu memecahkan rekor perjalanan terlama di antara keluarga besar gue yang lain. Jadilah kami bahan ceng-cengan tiap tahun. Nasyib! Bahkan, tiga tahun terakhir perjalanan darat gue selalu 24 jam lebih. Sebelum-sebelumnya berkisar 16 jam, 17 jam, 15 jam. Pokoknya selalu di atas 10 jam. Gilak! Karena itu kami bertekad tahun ini harus lolos dari kemacetan!!!

Untunglah kami dapat tiket kereta yang sudah dipesan sejak sebulan sebelum Lebaran. Awalnya pesan 3 bulan sebelum Lebaran, tapi nggak dapat. Eh, ternyata Pak Jokowi kasih kereta tambahan. Beruntunglah kami. Makasi Pak Owi…luv u.

Perjalanan Jakarta-Purwokerto kalau naik KA mah cuma 5 jam doang. Cemen! Enak, nggak pake macet, tinggal selonjoran, terus merem. Pas melek udah sampai. Semacam sulap simsalabim gitu.

Beli tiketnya jangan lupa langsung PP. Bisa, sih, beli tiket dadakan secara online, tapi harus pantang menyerah buat me-refresh onlinestore-nya. Dan, biasanya kalau dadakan gitu cuma bisa pesan per satu-tiket-satu-tiket. Jadi kita kayak nunggu tiket mentalan dari orang yang nggak jadi bayar.

Waktu gue berangkat naik kereta, di belakang gue duduk bapak-bapak Tiongkok yang ora bisa bahasa Indonesia dan bahasa inggris. KA gue waktu itu dijadwalin  tiba di tujuan pukul 00.45. Berhubung ngaret, jadi waktu tiba agak meleset. Sekitar jam 00.45, tiba2 si bapak di belakang gue nyolek lalu nanya ke gue pakai bahasa mandarin. Ya gue ora ngerti maleeeeeh!

Terus dia semacam panik, kok, belom sampai? Doi takut stasiunnya kelewatan. Gue ngerti, sih, intinya dia cuma takut kelewatan turun, tapi bagaimana cara mengungkapkannya sangatlah sulit. Karena dijelaskan pakai bahasa iInggris pun doi bhay banget. Hm, sepertinya dia diimpor langsung dari Tiongkok.

Akhirnya setelah komunikasi yang rumit—dia bahkan sempat  menyuruh gue mendengarkan rekaman suara temennya di WA yang entah ngomong apaa—akhirnya kami berhasil menyatukan jawaban dengan bahasa tubuh. Intinya seperti mengungkapkan, “Lo Purwokerto, gue juga Purwokerto. Tenang, kita turun bareng braaaay! Ai bakal kasih tau yu kalau ai mau turun nanti.” Case closed! Dia pun tersenyum J

Lanjut! TERNYATA keputusan kami buat naik KA tahun ini tepat! Kalau tahun ini gue beruntung bisa melewati mudik Lebaran dengan lancar tanpa macet, beda halnya dengan sepupu gue sekeluarga yang apes ketiban macet di Brexit, the hell of traffic. Wahahahaha!

Sepupu gue namanya mba Rini. Dia sekeluarga beserta suami dan anaknya harus menempuh perjalanan 30 jam buat sampe ke Purwokerto. Nah, masalahnya suaminya adalah seorang  pria Prancis. Doi nekat tahun ini mudik nyetir sendiri—biasanya pakai sopir. Lah, ya, udah.

Jadi ceritanya mereka stuck di Brexit selama 10 jam lebih. Buat ngirit bensin mereka matiin AC plus buka kaca. Sudahlah pasti jadi perhatian banyak orang ada bule mudik ke Purwokerto, wakakak… Katanya sepanjang jalan banyak orang yang nyapa dan nanya ke dia, “Mister, mudik ke Gombong, mister?” Woelaah Gomboooong…hahaha.

Udah gitu, katanya lagi, waktu suaminya turun keluar mobil, dia langsung dapat banyak teman yang pada ngajakin ngobrol. Mana doi pake beli kopi termos segala, yailaaah… Jadi resmi tahun ini trofi perjalanan terlama direbut oleh mba Rini sekeluarga. Horeee… moga mereka nggak trauma buat mudik lagi taun depan.

Yang seru kedua, tumbenan keluarga yang mudik tahun ini lagi banyak. Biasanya banyak juga, sih, cuma kadang suka misah-misah. Ada yang harus ke kampung mertuanya dulu atau ada yang baru datang pas Lebaran malamnya. Nah, tahun ini lumayan banyak yang bisa mudik lebih awal sehingga bisa kumpul rame-rame pas di hari H. Makanya kami langsung foto bareng, deh. CEKREEEK!

DSCF7562

Ketiga, Lebaran ini spesial banget karena sekaligus ada acara lamaran abang gue. Ya Allah, si bro akhirnya nemu jodoh insya Allah. Ceweknya doi kebetulan asli Purwokerto juga. Udah gitu satu desa pula. Ya Allah… ini, sih, namanya nggak memperluas keturunan, tapi budidaya keturunan ngapak, wakakakak. Syukur acara lamaran berjalan lancar. Tinggal tunggu tanggal mainnya yes.

Keempat, Lebaran tahun ini berdekatan dengan lulus-lulusan anak sekolah. Jadi kemaren para keponakan yang lulus SMA dan dapet PTN, masuk SMA, masuk SMP dibikin selametan. Sebagai tante saya, sih, senang-senang aja karena itu artinya MAKAN-MAKAN LAGEEEE!

Selama di sana seperti biasa gue habisin waktu buat keliling kota aja, terutama wisata kuliner. Gue sendiri kalau lagi pulang kampung sudah pasti akan makan Soto Jalan Bank, Es Duren Pak Kasdi, bakso Pekih, dan gudeg Pasar Wage. Di Purwokerto banyak banget tempat makan dan resto-resto yang bisa lo pilih, mulai dari yang jual makanan khas sampai kafe-kafe gaul macam di Jakarta. Di sana ada juga Saung Mang Engking. Meski di Jakarta sudah ada, lo wajib mampir ke Mang Engking di Purwokerto. Kenapa? karena tempatnya jauh lebih luas dan view-nya lebih bagus. Cocok buat makan bareng keluarga. Kalau kalian mau cari view dan suasana lebih adem, tinggal cari aja tempat makan di sepanjang jalan menuju Baturraden.

Nah, kalau lo mau jadi anak gahul Purwokerto, lo tinggal datangin kafe-kafe gahulnya. Banyak banget meeen. FYI, lo harus tau, sekarang di Purwokerto sudah ada kafe yang menjual menu Swedish Meatball!! Bukan cuma di IKEA aja! Gahul kan!

Lebaran kemarin gue juga baru nyoba jajan di warung kopi Terminal Baturraden. Jadi bentuknya semacam area parkir gitu, tapi di pinggir-pinggirnya berjajar warung-warung kopi kecil.  Paling enak datang ke sini malam hari biar udaranya lebih segar. Di malam hari warung-warung kopi di Terminal Baturraden itu banyak dikunjungi anak muda. Salah satu menu jagoannya adalah mendoan kriuk dan susu jahe. BEH MANTAP! WAJIB COBA ITU!

Kalau destinasi wisata Purwokerto macam-macam juga. Ada Baturraden, Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Dieng, Owabong, melipir sedikit ada Pantai Cilacap, Benteng Pendem di Cilacap, NusaKambangan,  rafting di Banjar. Kemarin yang tebaru ada Telaga Sunyi. Gue belum sempat ke sana tapi abang gue udah. Saran gue better kalau lo nggak datang pas peak season macam Lebaran.  Soalnya pasti penuh banget.

Setelah 6 hari gue pulang kampung akhirnya gue kembali ke ibu kota naik KA.

Love,

foto: train illustration by freepik

Advertisements