Gue suka banget nonton film. Beneran, gue tuh kalo nonton film serius banget. Nggak suka sambil ngobrol gitu. Harus fokus. Film yang gue tonton bolehlah genrenya apa aja. Nggak suka pilih-pilih genre, yang penting katanya bagus. Atau, baca dari review orang menarik. Salah satu yang gue suka, ya, drama. Buat gue film drama itu timeless, apalagi kalo filmnya menye-menye dan bisa bikin gue mewek. Makin suka, deh, gue film-film sedih dan mellow gitu.

Seinget gue kebanyakan film yang bisa bikin gue mewek adalah film-film yang  bertema perpisahan terutama kalo ada adegan ditinggal mati orang yang disayangi. Wah, bisa banjir air mata. Gue, tuh, emang sensitif anaknya, meski muka gue rada ganas, ya, tapi hati gue lembut banget kaya marshmellow.

Ada beberapa film yang gue inget bikin gue nangis berderai air mata. Gue inget gue mewek waktu nonton Ayat-ayat Cinta adegan ketika Maria akhirnya meninggalkan Fachri, Doraemon Stand by Me waktu Nobita ditinggal Doraemon, Seven Pounds waktu gue tau bahwa Ben melakukan itu untuk menebus dosa ke istrinya yang telah meninggal, PS I Love You waktu Holly depresi ditinggal Gerry, UP waktu Ellie akhirnya meninggal ninggalin Carl, bahkan gue nangis nonton film Cinta Pertama. Asli! tau, kan, film yang soundtrack-nya Sunny Sunny… apakabarmu? Kabarku baik-baik saja… itu!! Sumpah gue banjir air mata nontonnya. Apalagi waktu adegan Alya yang diperanin BCL akhirnya meninggal ninggalin Sunny alias Ben Joshua, satu-satunya orang yang dia cintai seumur hidupnya. Asli sedih! Meskipun gue belom punya pacar, ya (ini lebih syedih), tapi gue sangat mengerti rasanya ditinggal orang-orang terkasih seperti tokoh-tokoh di film itu. Hancur rasanya! Shakiit… Shakiiit!!

Tapiii BTW ada satu film pengecualian yang bisa bikin gue nangis, yaitu film Pocong 2 yang disutradarai Rudi Sujarwo. Gue inget banget ada adegan di mana Revalina S. Temat lagi berduaan sama pacarnya yang diperankan oleh Ringgo di apartemen. Waktu si Ringgo lagi pengen cium-cium Reva, tiba-tiba ada telfon berdering ke handphone Reva dan ternyata itu dari Ringgo yang ada di pintu luar apartemen. TADAAAA! Jadi Reva sama siapa? Terus gue nangis ahahahahaha… kzl.

Gue sendiri secara realita baru merasakan sedihnya ditinggal orang yang gue sayangi waktu salah satu sahabat gue meninggal tahun lalu. Wah, rasanya nggak karuan, men. Lemes selemes-lemesnya. Berkaca dari film dan kejadian dalam realita gue, akhirnya gue pun berharap dan berdoa yang banyak dan khusyuk agar nggak ada lagi orang yang gua sayangi pergi meninggalkan gue. Amit-amit… *ketok2 meja*

Sayangnya doa gue luput. Memang, ya, angin tak dapat membaca, takdir tak dapat dihindari meski kita sudah berdoa dengan giat. *sadisss!*

Gue emang nggak ditinggalin pacar atau orang terdekat gue. Tapi justru ada hal yang nggak gue sangka, sesuatu yang ternyata gue sayangi banget pergi meninggalkan gue secara mendadak, yaitu majalah kesayangan gue, Cita Cinta.

Yes, nggak ada angin, nggak ada hujan, hanya dalam waktu dua minggu majalah tempat gue bekerja selama empat tahun ini “dilebur” kaya bubur tanpa tempur. Dilebur itu maksudnya di-MERGER bersama kakak tertua kami, Femina. Proses peleburan ini kalau gue baca definisinya menyatukan dua pihak untuk menjadi sebuah perusahaan yang lebih besar dengan salah satu di antaranya tetap berdiri sementara yang lain lenyap dengan segala nama, dan kekayaannya dimasukan dalam perseroan yang tetap berdiri tersebut.

Sedih nggak lo? Lenyap, men! Rasanya nggak kalah sedih dari ditinggal orang kesayangan. Maka gue simpulkan bahwa satu-satunya soundtrack yang cocok untuk menggambarkan pengumuman  peleburan siang itu adalah lagunya Titiek Puspa yang judulnya Bing.

Liriknya gini:

“Siaaaang itu surya berlapis sinarnya… tiba-tiba redup langit gelap..

Hati yang bahagia terhentak seeketikaa… malapetaka seakan menyelinaaaappp.

Berita menggelegar aku terima.. kekasih berpulang tuk selamaaaanya

Hancur luluh rasa… jiwa dan raga

Tak percaya tapi nyataaaaaaa….. oooh~~~~

 *asek kan* *yang bacanya sambil nyanyi dalem hati pasti pernah punya laser disc-nya zaman dulu* :p

Sejak pengumuman siang itu, gue berasa hidup dalam drama. *sedaaaap*

Hati gue remuk redam. Bayangkan gue yang baru bekerja 4 tahun saja merasa sangat sakit. Gue nggak kebayang gimana temen-temen gue lainnya yang udah bekerja membangun CC selama 6 tahun, 7 tahun, 8 tahun, 12 tahun, atau 16 tahun. Pasti mereka lebih sedih dari gue. Apalagi pemberitahuan leburnya CC sangat tiba-tiba, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dan di saat CC justru sedang sangat pesat perkembangannya.

Anyway, gue nggak mau membahas masalah itu lebih jauh. Gue yakin bahwa segala sesuatu pasti dilakukan untuk tujuan yang lebih baik walaupun harus bikin gedeg di awal. Gue pun sampe sekarang masih sering berpikir, “WHY?” *pake nada Mba Nia* Tapi ya udah, life must go on. Semua harus diikhlasin. Katanya, kalau kita bisa ikhlas maka Tuhan akan lebih memperlancar jalan umatnya. Ya udah, aminin aja, sis…

Baca juga: Mengejar Tulus

Alhasil mulai 28 Maret Cita Cinta resmi dilebur dengan Femina. Mulai sekarang kami pun disebut Femina Media. Walaupun nggak semua squad CC terakhir masuk ke Femina, tapi sebagian besar memang ke sana. Dua redaksi dan bagian produksi terpencar ke beberapa majalah lain. Gue sendiri masuk Femina. Tapi gue yakin masing-masing dari kami bisa menunjukan kapasitasnya di tempat yang baru. Karena gue tau anak-anak CC itu pinter-pinter dan selalu bekerja dengan hati. Nggak pake ngeluh, nggak pake komplain langsung jadi.

Gue yakin di awal-awal pasti kami banyak mengeluh dan menggerutu, mohon maaf. Kami juga masih menggerombol saat makan siang dan jajan, mohon maaf juga. Gue pun begitu, rasanya bekerja masih setengah hati. Tapi gue yakin lambat laun setelah adaptasi kita pasti terbiasa dan bisa jalan sendiri-sendiri.

Memang, sih, awal-awal pasti akan silit… sulit kaliiiiiii! Tapi semua akan indah pada waktunya. Kalau pada akhirnya kami menyerah, bukanlah menyerah karena kami tidak bisa. Tapi karena kami rindu kebersamaan yang telah tercerai berai ini…

Tau, kan, rasanya, tuh, kaya putus sama pacar, tapi masih satu sekolah! Jadi sekalian aja kami bawa diri ke tempat yang lebih jauh biar nggak bisa ngeliat kamu lagi! Biar nggak inget terus masa-masa kita makan di MSG bareng. Biar nggak inget waktu kamu ulang tahun beliin aku nasi padang Sakato. Biar nggak inget waktu kita ribet dandan buat foto redjeng, dan kenangan lainnya.

Jadi kalo kamu mau keluar karena kamu nggak tahan rindu akan kebersamaan kita, keluarlah. Cari juga yang gajinya lebih bagus, ya.

Gua sendiri akan selalu merindukan teman-teman CC gue, terutama saat-saat bisa becanda dan ketawa ngakak tanpa ada yang protes. Buat gue, CC is my best experience so far. Gue suka suasananya, gue suka timnya, tim yang dari awal gue masuk sampai the last squad. Gue sayang sekali dengan semuanya.

Yaudah gitu aja tulisan hari ini. Aku BAPER sama Aiman Ricky.

collage2

Love,

 

Advertisements