Jadi ini saya mau cerita soal laki-laki pertama yang saya suka. Aduh, belum mulai cerita sudah malu saya, itu karena saya nggak biasa cerita soal begini ke teman-teman. Baiklah kita mulai saja, ya, kalo tidak segera dimulai nanti kalian keburu malas membacanya. Jadi Laki-laki yang pertama kali saya suka itu namanya Cakra, saya ingat itu nama panjangnya Cakra Anugerah. Dia itu teman saya waktu TK dulu di TK Bina Warga Pondok Kelapa. TK-nya dekat rumah saya, cuma nyebrang kompleks saja. Tapi kalian harus ingat, walaupun dekat saat itu saya tetap harus diantar oleh mbak saya. Supaya tahu saja, nama mbak saya itu Mba Rimah.

Saya ingat Cakra itu sekelas sama saya dari TK A sampai TK B. Kenapa saya suka Cakra? Hayoo  coba tebak… itu karena dari sekian banyak anak lelaki di TK itu cuma dia yang punya rupa cakap. Bener, dia itu mukanya seperti bule. Kulitnya putih terus rambutnya agak kemerahan, bukan hitam, matanya agak sipit. Pokoknya saya suka sama dia karena itu.

Seingat saya, saya nggak pernah ngobrol sama Cakra. Soalnya zaman dulu itu kayaknya anak lelaki dan perempuan suka malu-malu kalau mau menyapa. Cakra itu juga pendiam seingat saya. Nah, waktu itu saya tau ternyata bukan cuma saya yang suka sama Cakra. Mungkin semua anak perempuan di TK itu suka sama dia, ya? Mungkin semuanya punya pikiran yang sama seperti saya. Pikiran yang itu tadi saya bilang bahwa Cakra itu anak paling cakep di sekolah. Jadi pada suka. Salah satu yang suka sama Cakra itu saya inget namanya Ines. Tapi saya nggak inget nama panjangnya. Asli, lupa saya.

Ines itu anaknya lebih tinggi dari saya, rambutnya pendek bondol, badannya kurus. Ada satu kejadian yang paling saya inget soal Ines sama saya. Ini lucu. Waktu itu saya dipanggil sama ibu guru, namanya Bu Anton. Saya lupa gara-gara apa, saya juga nggak ingat Bu Anton ngomong apa. Tapi saya ingat Bu Anton lalu memanggil Ines.

Posisinya itu Ibu Anton duduk di bangku meja kerjanya. Saya dan Ines berdiri berdampingan di depan meja Bu Anton. Dekat sekali jarak saya dan Ines, nggak lebih dari semeter. Saat itu saya tiba-tiba inget kalau Ines suka sama Cakra. Karena inget itu saya jadi sebel sama Ines. Pokoknya cuma saya saja yang boleh suka sama Cakra.

Diam-diam itu kaki Ines saya injek. Keras banget. Asli. Jahat, ya, saya? Tapi Ines diem aja. Baik dia anaknya. Dia juga nggak bilang ke Bu Anton kalau saya lagi injek kakinya. Itu satu-satunya kejadian sama ines yang saya inget. Kejadian yang paling saya sesalkan. Semoga Ines sudah lupa sehingga dia nggak dendam sama saya. Sehingga dia nggak cari-cari nama saya di Google untuk coba menemui saya dan balas dendam lindas kaki saya pakai traktor.

Waktu SMA kemudian saya baru tau ternyata banyak temen saya yang waktu SMP satu sekolah sama Cakra. Itu karena saya pernah nanya-nanya ke teman saya. Saya sendiri nggak pernah ketemu sama Cakra selepas TK. Belakangan saya iseng cari nama dia di Google. Ada lah itu muncul banyak nama Cakra Anugerah, tapi ada satu orang yang saya curigai dia Cakra yang sama seperti Cakra teman TK saya dulu. Walaupun saya nggak yakin soalnya mukanya beda.

Orang dalam foto itu kurus, tapi seperti ada kesamaan dengan Cakra yang saya ingat. Itu saya nemu dia di akun instagram namanya ‘releaseurcakra’, saya juga nemu dia di LinkedIn, tapi saya nggak nemu dia di Facebook. Mungkin dia nggak main Facebook, ya? Atau, dia pakai nama lain di facebook, mungkin namanya Cakra Ayam, bisa juga Mas Bro Caks. Nggak lucu, ya? Saya juga nggak ketawa, kok, waktu nulisnya.

Cakra yang saya curigai ini sepertinya, sih, benar dia walaupun saya juga belum tentu benar. Jadi anak gaul gaya dia sekarang. Terus lucu, dia itu suka posting foto bareng pacarnya, saya lupa nama pacarnya. Pacarnya itu cantik, guys. Ah… Cakra… kamu sudah punya pacar rupanya. Seandainya kita bertemu selepas TK mungkin kita sudah bersama, tapi mungkin juga tidak bersama. Kan, kita belum tentu cocok. Apalagi kalau orangtua kita nggak setuju, Cak.

Tapi Cakra, mudah-mudahan saja kamu nggak baca ini seperti mudah-mudahan Ines nggak baca ini, juga pacar kamu. Karena kalau kamu baca saya bisa malu. Kalau malu nanti sayiia nggak mau bertemu kamu, Cak. Nanti, kan, ketauan kalau dulu saya suka kamu. Malu ah, Cak…

Semoga saja Cakra, pacarnya, dan Ines selalu sehat dalam lindungan Tuhan, ya. Tapi sayang sekali Bu Anton sudah duluan menghadap Tuhan beberapa tahun lalu. Doa saya selalu untuk Ibu Anton. Ayo teman-teman juga ikut doakan, ya… terima kasih.

Sudah, ya…

foto: greenweddingshoes.com

Advertisements