Tubuhankantu

Saya lagi kesel. Sebel. Pokoknya nggak suka. Sama siapa coba? Jangan kaget, ya. Sama pemuka agama. Agamanya apa saya rahasiakan di sini. Itu gara-garanya sepulang kerja saya, kan, naik angkot M26 yang jurusannya dari Kampung Melayu ke Bekasi itu, di dalam mobil pak sopirnya setel kaset yang isinya bukan lagu tapi orang bicara seperti pidato gitu. Buat kalian yang tanya kenapa saya naik angkot, itu karena saya nggak bawa kendaraan pribadi kalau ke kantor sebab saya, kan, nggak punya. Ada satu mobil tapi itu kepunyaan bapak saya, bukan saya pribadi.

Di dalam angkot suara orang bicara itu disetel keras-keras sama pak sopirnya. Biar apa, ya? Mungkin biar semua yang naik di dalamnya pada denger, ya. Awalnya saya pikir itu radio ternyata bukan sebab saya perhatiin suaranya nggak berganti lagu atau suara penyiar. Akhirnya saya ikutan pak sopir buat mendengarkan. Kenapa ikut pak sopir? Sebab saya harus pulang ke rumah. Kan, cuma pak sopir yang bisa antar saya. Tapi saya yakin meski punya kuping, penumpang yang lain nggak ada yang mau dengerin. Pura-pura nggak dengar.

Yang bikin saya sebel sebab itu pemuka agama bilang bahwa agama lain selain agamanya itu bukan agama! Bahwa agama lain selain agamanya itu tidak benar! Bahwa agama lain selain agamanya itu kebalikan dari Tuhan! HANTU! Begitu katanya. Ngomongnya sambil berteriak-teriak itu seperti orang marah-marah, seperti dia benci sekali pada agama lain selain agamanya makanya saya tulis pakai tanda seru, biar kalian tau. Dia juga bilang bahwa pemuka agama lain selain agamanya itu tukang mabuk-mabukan! Sok tau sekali dia.

Gila dia. Saya pikir dia itu yang hantu sebab hantu, kan, seram. Dia itu seram sekali, loh, bisa pidato begitu. Saya bayangkan mukanya itu gradakan seperti bulan, alisnya itu naik ujungnya, mukanya merah, lidahnya bercabang dua seperti ular. Hiiii… Saya rasa bukan pemuka agama dia sebab pemuka agama seharusnya tidak bilang begitu untuk didengar umatnya. Tuhan, kan, juga nggak pernah ajarkan umatnya untuk menjelek-jelekkan orang lain. Kasian Tuhan, pasti sedih Dia. Pasti Dia kecewa melihat ada pemuka agama seperti itu. Kalau Tuhan ada banyak, saya yakin pasti nggak ada Tuhan yang mau punya umat seperti dia. Asli.

Untung di dalam angkot itu nggak ada anak-anak yang masih kecil. Coba kalau ada anak yang masih kecil, itu pasti dia akan ingat terus kata-katanya. Pasti dia akan bilang ke temannya yang beda agama darinya. “Kamu hantu, kamu hantu!” seperti itu, kan.

Saya liat mbak-mbak di depan saya juga sudah mulai risih kupingnya mendengarkan itu. Mungkin dia salah satu umat yang agamanya dijelek-jelekkan oleh si pemuka agama dalam kaset itu. Ada juga mas-mas yang terlihat menyimak dengan kuping tajam. Sepertinya dia juga males mendengar ceramahnya. Sayang dan untungnya saya sudah harus turun duluan dari mereka.

Waktu turun itu saya kasih sopirnya ongkos 5000 sambil bilang ‘matiin itu nggak bener.’ Asli saya bilang begitu. Berani benar saya. Tapi kayaknya si sopir cuek aja. Ya sudah. Semoga penumpang yang tujuannya Bekasi bisa selamat sampai tujuan. Oiya, saya nggak mau, ah, naik angkot yang memutar kaset itu lagi.

Sudah, ya.

Advertisements