Saya itu suka kucing orangnya soalnya lucu suka bikin gemes itu mukanya. Di rumah ada enam ekor pakai badannya, tiga dewasa dan tiga anak kucing. Masih kecil-kecil baru dua bulanan umurnya. Katanya umur segitu lagi lucu-lucunya sebab kita belom repot sama eek-nya. Semoga nanti jadi kucing yang berbakti pada orang tua.

Seharusnya ada tujuh tapi itu yang satu merantau belum pulang-pulang. Saya kira merantaunya dua atau tiga hari, ternyata sampai dua bulanan dia nggak pulang, itu menurut ingatan saya. Eh, asli, tadi pagi dia baru pulang! Tau nggak kalian, dia pulang badannya jadi dua. Berbadan dua. Pantes saja tadi bangun tidur si ibu jadi cemberut sama saya. Si ibu, tuh, maksudnya ibu saya, bukan ibu kalian. Masa ibu kalian cemberut sama saya? Saya, kan, nggak makan kue di meja makan kalian.

Ini bukan yang pertama kucing ada di rumah. Sudah lama itu saya pelihara mereka. Ingat saya sama sama kucing pertama yang saya kasih nama Pussy Deasy. Kasian, ya, namanya? Jangan begitu. Itu karena dulu saya suka sama pacarnya Donal Bebek. Hebat juga itu Donal belum putus-putus, ya, sampai sekarang? Dulu itu saya kelas TK atau 1 SD. Ketemu Si Deasy di depan rumah saya. Dia itu kucing kampung warnanya oranye seperti kucing berwarna oranye pada umumnya, kupingnya lancip, ada kumisnya, nggak ada yang istimewa lah.

Dia keliaran di depan rumah lagi cari makan. Depan rumah saya masih tanah kosong semua tahun 90-an, belum ada dibangun rumah seperti sekarang, cuma ada beberapa rumah aja. Tanah merah saja gitu paling ada rumput-rumput yang warnanya dari dulu hijau sama batu-batu yang dari dulu keras. Ibu bapak saya itu termasuk orang-orang pertama yang tinggal di Pondok Kelapa, tapi nggak pernah jadi RT mereka. Nggak mau.  Kalau ketua PKK mau, tapi cuma ibu saya yang mau.

Terus waktu Deasy lagi di depan rumah kebetulan itu saya lagi pegang roti keju yang dalemnya keju bohong-bohongan tapi enak itu, loh, tau, kan, kalian? Kejunya yang pecah seret-seret itu warna kuning pucet. Enak itu. Dulu harganya berapa, ya, saya lupa masih 150 sepertinya.

Si Deasy saya panggil pakai cuilan roti. Jalan dia ke dekat saya. Rotinya saya taro di jalan terus dia makan. Saya kasih banyak semuanya dia makan. Sejak itu si Deasy yang dulu belum punya nama akhirnya tidur di rumah saya. Saya pelihara dia. Baru, deh, saya kasih dia nama. Saya bisikin nama Deasy di kupingnya. Katanya harus begitu cara kasih nama ke kucing, biar itu bisikannya nempel di otak dia sehingga kalau dipanggil nurut. Si Deasy cantik dia, sekiranya pernah punya 36 anak sebelum habis keturunannya. Saya ingat karena saya hitung.

Setelah dinasti si Deasy banyak kucing lagi saya pelihara. Itu anehnya, ya, kebanyakan kucing akan merantau saat besar apalagi kalau ada kucing baru atau anak kucing baru lahir di rumah. Saya pelajari itu polanya. Dulu kalau hilang saya cari-cari sampai sedih. Naik sepeda saya keliling kompleks melongok-longok ke rumah orang, menungging-nungging ke bawah kolong mobil. Sampai saya mengerti ternyata memang begitu.

Merantaunya nggak ke mana-mana dia masih di satu kompleks rumah hanya beda beberapa blok saja. Jadi kadang saya masih suka lihat kalau saya lagi ke warung. Masih mau dia digendong tapi nggak mau pulang. Sudah punya tempat baru.  Kalau ada yang merantau tidak pulang itu saya sedih, seperti ibu ditinggal anaknya berperang. Beneran, nggak bohong, bikin saya uring-uringan beberapa hari. waktu uring-uringan itu saya masih ngarep dia pulang.

 Ini soal kucing juga ada anehnya, sebab dari dulu saya tidak bisa pelihara kucing bagus dalam waktu lama. Kucing bagus itu maksudnya kucing-kucing ras seperti angora, persia, dan lainnya. Pernah beberapa kali pelihara tapi ada saja kendala. Semacam kutukan itu. Sekitar tiga kali saya punya kucing bagus, tapi nasibnya buruk semua, mati dan hilang.

Itu saya ingat ada satu  Persia abu-abu pemberian teman saya. Saya jemput dia di Bogor namanya Boby. Si Boby ini melahirkan satu generasi. Dulu itu dia punya gigi taring menyembul keluar. Itu giginya bikin dia sakit demam. Waktu di mandiin di petshop, pulang-pulang giginya hilang. Bikin makin sakit itu kayaknya. Bengkak lehernya. Kasian uring-uringan dia. Saya bawa dia ke dokter katanya ada nanahnya harus dioperasi. Ya sudah saya operasi. Lumayan itu biayanya. Akhirnya sembuh. Tapi seminggu setelah operasi dia hilang mungkin diambil orang. Tekor saya.

Yang sekarang ada di rumah ini entah sudah keturunan kucing ke berapa yang pernah saya pelihara. Cantik-cantik. Ganteng-ganteng.  Gemes saya. Tapi ada juga yang agak homo. Bukan berarti saya nggak suka sama homo atau gay, ya. Nggak apa itu menurut saya, terserah saja. Tapi ini lucu karena yang saya lihat kucing. Dua kucing saya yang sama-sama cowok ternyata suka menyusu. Yang satu menyusu ke kucing satunya, padahal, kan, nggak ada teteknya. bener, deh. Baru sekali saya punya kucing begini. Bikin ibu bapak saya, abang dan kakak perempuan saya, mbak dan bude juga ketawa.

Image

Ada juga satu yang warnanya putih semu cokelat. Lucu. Semoga nggak ada hal buruk untuk mereka.

Sekarang saya mau pusing dulu mikirin kucing yang satu lagi sedang hamil. Siap-siapin tempatnya, biasanya di bawah tangga.

Sudah, ya.

Advertisements