Asal muasal ini berkaitan dengan nama saya yang dipanggil Joey. Sok sekali, ya, laganya seperti nama bukan orang pribumi. Pasti sebagian dari kalian teringat dengan Joey Tribiani teman sekamar Chandler dalam serial Friends, kan? Saya juga selalu ingat dia setiap kali menyebut nama saya dalam hati. Lucu, ya, dia.

Mungkin banyak yang belum tau kenapa saya dipanggil Joey hingga sekarang, padahal dulu juga dipanggil Parjo. Ini ternyata ceritanya turun temurun dari kakak saya seperti cerita sejarah yang pernah kita baca di sekolah dulu.

Saya dulunya sekolah di SMA Negeri 61. Letaknya di Jakarta Timur situ yang ada jalannya turun ke bawah dekat sawah kalau kita naik angkot dari depan Kalimalang. Itu turunannya pakai tangga semen yang dibuat kecil-kecil pijakannya sehingga kalau lewat situ murid-murid tidak terlalu capek. Dari turunan situ kita harus jalan sekitar 100 meter lah untuk sampai depan gerbang sekolah. Kalau musim hujan seru soalnya banjir. Di sepanjang jalan 100 meter itu sebelah kanannya adalah sawah. Ada juga empang rawa yang airnya hitam kayak comberan, jadi tempat nyeburin teman-teman cowok yang pada ulang tahun itu. Bikin yang diceburin pada kena DBD keesokan harinya. Tapi nggak tau lah sekarang, katanya sudah lebih bagus lagi mungkin sudah nggak banjir lagi jadi kurang seru. Di dekatnya sudah dibangun mal. Sudah lama tidak ke sana. Waktu daftar masuk kelas satu dulu itu ibu saya sudah kenal sama gurunya jadi akrab.

Ibu saya bisa kenal soalnya sekolah itu dulunya juga tempat sekolah kakak pertama saya, Parmita. Beda umurnya enam tahun dari saya. Di sekolah itu walau dia wanita tapi dia dipanggil Parjo oleh guru dan teman-temannya.  Yang saya ingat waktu olahraga, Pak Guru saya namanya Syaiful nanya ke saya, “Kamu adiknya Parmita, ya?” Waktu saya bilang ‘iya’ dia langsung bilang, “Ya udah kamu saya panggil Parjo juga.” Saya iya saja.

Parjo itu singkatan dari Parmita Jorok. Sebabnya dulu kakak saya waktu datang ke sekolah sepatunya kena becekan bekas hujan. Sepatunya yang hitam jadi lebih hitam lagi gitu banyak lumpurnya. Tapi nggak langsung dia cuci, malah masuk kelas. Pas jam istirahat dia ketemu Pak Ipul. Pak Ipul itu orangnya sama dengan yang saya sebut sebagai Pak Syaiful. Ipul itu panggilannya. Ditegur kakak saya sama dia.

“Kenapa itu sepatu kamu?” katanya. Ya, kakak saya bilang kena becekan. Dia tanya lagi, “Kenapa nggak dicuci dulu di kamar mandi?” Kakak saya jawab lagi bilangnya lupa. Terus dia ke kamar mandi buat cuci itu sepatu. Nah, kata kakak saya Pak Ipul terus bilang, “Wah, dasar jorok! Parjo..Parjoooo… Parmita jorok.” Rupanya dari situ dia dapat nama panggilannya. Lalu menurun ke saya membuat saya juga dipanggil Parjo oleh beberapa guru dan semua teman-teman saya. Kakak saya cerita dulu itu akhirnya namanya suka dibuat ejekan dengan nada iklan “Parcok param kocok, parjo parmita jorok”. Saya tau kalian yang baca pada nyanyi dalam hati, ya?

Parjo itu panggilan waktu saya duduk di kelas satu dan dua SMA. Selain Pak Ipul ada Pak Danar Parwadi, dan Pak Sunarto yang panggil saya sama. Pak Danar itu guru Bahasa Indonesia yang bikin saya suka sama pelajaran itu. Orangnya lucu alisnya tebal seperti ulat bulu, asli. Kalau Pak Narto itu pendek tapi badannya kekar seperti bentukan ketua partai kuning, sterek.

Beranjak ke kelas tiga ada masa di mana nama panggilan anak-anak berubah menjadi berakhiran –iy. Entah siapa yang memulai. Kalian mengerti nggak maksud saya? Begini kalau dijelaskan. Semisal ada teman saya namanya Farra maka nggak akan lagi dipanggil Farra melainkan Farriy. Ada rumus huruf vokal -a di belakang berganti menjadi –iy. Begitu juga dengan teman saya yang namanya Rendra menjadi Rendriy, Aryo jadi Aryiy, dan seterusnya. Kalau yang namanya diakhiri konsonan gampang lagi, tinggal ditambahi –iy. Pras jadi Prasiy.

Aturan lainnya pokoknya itu hanya boleh jadi dua suku kata. Semisal Ichan tidak bisa dipanggil Ichaniy, tapi jadi Chaniy saja. Jadi itu i- di depannya hilang sendiri. Entah siapa yang buat aturannya pokoknya masing-masing sudah tau sendiri. Jadi nama saya masuk kategori ini. Parjo seharusnya jadi Parjiy. Awalnya seperti itu, tapi mungkin kurang enak, ya? Jadi teman-teman panggil Parjoiy. Lalu itu par- di depan hilang sendiri jadi Joiy. Alih-alih biar keren, akhiran –iy itu saya ganti jadi –ey.

Sudah coba nama kalian?

Kira-kira begitu ceritanya asal muasal nama saya. Saya harus cerita biar orang pada tahu sebab banyak yang tanya itu. Beberapa teman dekat saya mungkin juga belum tahu dan ingin tahu tapi malu bertanya atau sibuk. Mungkin ada yang lebih penting yang harus dia kerjakan daripada tanya asal usul nama saya. Besoknya mau tanya, eh, sudah kelupaan.

Eh, ngomong-ngomong tadi apa kabar, ya, Pak Ipul, Pak Narto dan Pak Danar? Sembilan tahun setelah saya lulus SMA sepupu saya yang paling kecil baru masuk SMA. Masuk SMA 61 dia. Katanya masih ada itu Pak Ipul mengajar olahraga, Pak Narto juga masih mengajar olahraga tapi sudah menikah dia katanya dulu belum. Pak Danar juga ada tapi sudah jadi wakil kepala sekolah dia. Hebat, ya. Bukan berarti Pak Ipul dan Pak Narto tidak hebat. Tapi katanya rambut mereka sudah mulai memutih semua. Sedih saya. Saya dikirimi foto Pak Danar oleh sepupu saya, bener itu rambut dan alisnya sudah banyak memutih.  Tapi masih lucu dia, nyengir di dalam fotonya. Nanti kalau fotonya sudah ketemu akan saya unggah, ya, sebab saya cari, kok, tidak ada.

Saya pikir hebat juga sepupu saya bisa minta foto wakasek, padahal belum seminggu dia masuk SMA waktu itu, disuruh nyengir pula. Kata sepupu saya waktu itu kebetulan Pak Danar masuk ke kelasnya menggantikan guru bahasa Indonesia yang tidak masuk.

Doa saya semoga mereka selalu sehat.

Sudah, ya.

FOTO: crazy-frankenstein.com

Advertisements